Agama Sebagai Topeng Kekuasaan: Kematian Politik Identitas

Novandi Ariyanto Putra, Kajian Isu Strategis Universitas Islam As-Syafi'iyah, Jakarta (Dok. Istimewa)

Bukan hanya masalah Keluarga Abraham, semua dimulai dari relasi yang lebih terstruktur dan sistematis; Negara dan Kapitalisme.

Jakarta – Perang dan kekerasan yang berlangsung di berbagai belahan dunia, khususnya di Palestina, selama bertahun-tahun kerap dipahami sebagai konflik antaragama.

Para aktor politik dan media terus mengulang narasi ini, seolah-olah kekerasan tersebut merupakan kelanjutan dari pertentangan historis antara Yahudi, Kristen, dan Islam.

Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa konflik ini tidak berhenti pada persoalan identitas, melainkan berkaitan erat dengan ekspansi kekuasaan dan kepentingan ekonomi global.

Sejak pendudukan wilayah Palestina berlangsung, kekerasan yang terjadi menunjukkan pola sistematis.

Data kemanusiaan mencatat bahwa dalam dua dekade terakhir, puluhan ribu warga Palestina kehilangan nyawa akibat operasi militer, dengan mayoritas korban berasal dari kalangan sipil.

Dalam periode 2023–2025 saja, jumlah korban tewas di Jalur Gaza mencapai puluhan ribu orang, termasuk ribuan anak-anak, sementara lebih dari dua juta penduduk terpaksa mengungsi akibat hancurnya permukiman, rumah sakit, sekolah, dan fasilitas dasar lainnya.

Konflik antara Israel dan Palestina kerap dibingkai sebagai perang identitas keagamaan. Akhirnya begitulah dunia memahami gejolak imperialisme ini sebatas perang keagamaan.

Identitas agama ditarik dari ranah keyakinan dan sejarah, lalu dipindahkan ke ranah politik untuk membentuk legitimasi moral atas kekerasan.

Stigma “perang agama” ini membangun pembenaran atas kekerasan dan menjadi batu benturan terhadap agama Abraham lainnya khususnya yang beragama yahudi.

Akhirnya, terdapat pengucilan yang sistematis terhadap agama tersebut.

Jika meninjaunya secara lebih radikal (radix = akar), kita melihat bahwa negara Israel bersama sekutu AS menjalankan imperialisme yang melahirkan pemusnahan massal demi meluaskan kontrol dan pasar dalam roda kapitalisme.

Namun, di balik narasi tersebut, berlangsung proses penguasaan wilayah dan sumber daya secara berkelanjutan.

Konflik Global di balik Politik Identitas

Perluasan permukiman, penguasaan lahan, kontrol atas air, serta pembatasan ruang hidup warga Palestina menunjukkan bahwa konflik ini berjalan seiring dengan kepentingan politik dan ekonomi.

Pendudukan militer dan blokade wilayah tidak hanya berdampak pada aspek keamanan, tetapi juga menghambat akses ekonomi, pendidikan, dan kesehatan masyarakat sipil.

Kekerasan yang terjadi memperlihatkan bagaimana negara dan kekuatan modal bekerja bersama.

Ketika sistem ekonomi global mengalami tekanan dan kejenuhan, ekspansi wilayah dan kontrol geopolitik menjadi bagian dari upaya mempertahankan dominasi.

Dalam konteks ini, identitas agama berfungsi sebagai topeng pembenar, bukan sebagai penyebab utama perang.

Pola serupa tidak hanya terjadi di Palestina. Konflik kemanusiaan di Sudan serta kekerasan struktural di Papua menunjukkan bahwa para aktor kekuasaan sering menggunakan perbedaan identitas untuk menutupi praktik perampasan ruang hidup dan sumber daya.

Di berbagai wilayah, stigma identitas menjadi cara efektif untuk meredam kritik terhadap kekerasan negara dan kepentingan kapital.

Seruan “We’re a Palestinian” yang menggema di berbagai negara kemudian dimaknai sebagai penolakan terhadap narasi perang agama.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penderitaan di Palestina bukan persoalan satu identitas tertentu, melainkan persoalan kemanusiaan yang lahir dari rakusnya kekuasaan global.

Dengan terus membingkai perang sebagai konflik identitas, akar persoalan akan tetap tersembunyi.

Selama itu pula, para penguasa terus menjalankan kekerasan, pendudukan, dan pemusnahan massal dengan membangun legitimasi moral melalui stigma agama.

Di tengah kondisi tersebut, kemanusiaan menjadi titik temu yang menuntut pembacaan ulang atas perang, dengan memandang fenomena seperti ini bukan lagi sebagai benturan iman, melainkan sebagai ekspansi kekuasaan dalam sistem kapitalisme global.

*****)

Oleh: Novandi Ariyanto Putra, Kajian Isu Strategis Universitas Islam As-Syafi’iyah Jakarta (Kastrat UIA)

Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi ForumKiSSNed.co.id

Kopi Forum atau rubik opini di Forum KiSSNed untuk umum

Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksi@forumkissned.co.id

Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Marhaban ya Ramadhan
Iklan 320x50
Promo Iklan