Jakarta, Forum KiSSNed – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kian menggila. Kurs rupiah sempat menyentuh kisaran Rp16.700 per dolar AS.
Situasi ini langsung memicu reaksi keras dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa berlatar belakanag pendidikan ekonomi.
Ketua BEM Fakultas Ekonomi Universitas Ibnu Chaldun (BEM FE UIC) Jakarta, Samba Saputra, angkat suara. Ia menegaskan dukungan penuh terhadap langkah pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan, dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Pemerintah tidak boleh ragu. Ini situasi serius. Tapi kami percaya, negara punya instrumen untuk meredam tekanan dolar,” kata Samba dalam keterangan tertulisnya (28/9).
Samba menilai pernyataan terbuka Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sangat penting.
Menurutnya, komunikasi publik yang jujur akan memperkuat kepercayaan masyarakat dan pelaku ekonomi.
“Jangan biarkan publik hanya menebak-nebak. Informasi yang jelas bisa menjaga stabilitas psikologis pasar,” ujarnya.
Ia menguraikan bahwa pemerintah memiliki amunisi kebijakan yang cukup. Instrumen fiskal dan moneter siap dikerahkan.
“Intervensi pasar, pengelolaan utang, dan koordinasi kebijakan sudah harus digerakkan maksimal,” jelasnya.
Dorong Fundamental Ekonomi Nasional
BEM FE UIC juga mendorong pemerintah memperkuat fundamental ekonomi nasional.
Samba menyebut ada tiga kunci utama yang memperkuat landasan ekonomi nasional kita. Peningkatan ekspor, efisiensi belanja negara, dan reformasi struktural.
“Jangan hanya menunggu pasar pulih sendiri. Ekonomi kita harus diperkuat dari dalam,” tegasnya.
Ia juga memuji sikap transparan pemerintah. Menurutnya, pernyataan terbuka Menteri Keuangan adalah bentuk tanggung jawab negara kepada rakyat.
“Langkah ini penting untuk menjaga kepercayaan publik. Rakyat perlu tahu negara tidak tinggal diam,” tegasnya lagi.
Samba menyatakan keyakinannya bahwa pemerintah memiliki strategi matang.
Ia optimistis pemerintah dapat menekan tekanan dolar melalui kombinasi kebijakan moneter dan fiskal yang disiplin.
“Koordinasi harus jalan. Jangan sampai ada celah kebijakan yang dimanfaatkan spekulan,” tambah Samba.
Selain itu, Samba meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik. Ia menekankan bahwa pelemahan rupiah bukan hanya faktor domestik, tetapi juga dampak dinamika global.
“Kita menghadapi tekanan dari luar. Tapi itu bukan alasan untuk pesimis,” katanya.
BEM FE UIC siap menjadi mitra kritis dan konstruktif pemerintah.
Mereka berkomitmen memberikan masukan akademis sebagai bentuk dukungan penuh terhadap kebijakan yang berpihak pada stabilitas ekonomi dan kesejahteraan rakyat.
“Mahasiswa bukan hanya pengamat. Kami bagian dari solusi. Kami mendukung langkah-langkah yang memperkuat rupiah dan melindungi rakyat,” tutup Samba.












