Kesaksian Mengejutkan! Munir Tewas Dibunuh Intelijen

Kesaksian Mengejutkan! Munir Tewas Dibunuh Intelijen
Tokoh pejuang hak asasi manusia yang kritis dan berani dalam mengungkapkan pelanggaran HAM di Indonesia.

Jakarta, Forum KiSSNed – Fakta mencengangkan kembali terungkap dalam kasus kelam pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib.

Budi Santoso, mantan Direktur BIN, dengan tegas menyebut kematian Munir bukanlah insiden biasa, melainkan bagian dari operasi intelijen terencana dengan aliran dana gelap yang melibatkan nama besar di tubuh BIN.

Pelaku meracun Munir dengan arsenik dalam penerbangan menuju Belanda, menyebabkan kematiannya yang mengenaskan pada 7 September 2004

Hakim menyatakan racun arsenik diselipkan ke dalam mi goreng yang disantap dirinya saat di pesawat.

Nama Budi menyeret dua sosok penting, eks Deputi V BIN Muchdi Pr dan pilot Garuda Pollycarpus Budihari Priyanto.

Budi mengungkap, Polly direkrut secara khusus oleh Muchdi sebagai jaringan non-organik BIN dan bahkan menerima aliran dana jutaan rupiah.

“Saya melihat langsung Polly menerima uang Rp10 juta dari Muchdi di ruang kerjanya. Yang memberi tugas ke Polly adalah agen handler-nya, yaitu Muchdi sendiri,” tegas Budi.

Muchdi sempat duduk di kursi terdakwa kasus pembunuhan berencana, namun lolos vonis pada 2008.

Polly menjalani hukuman 14 tahun penjara, sempat bebas bersyarat pada 2018, dan meninggal akibat Covid-19 pada 2020.

Budi juga menegaskan bahwa BIN seharusnya tidak menjadikan Munir sebagai target operasi. Namun, sikap kritisnya dalam membongkar pelanggaran HAM membuat banyak pihak merasa terancam.

“Mereka tidak perlu menjadikan Munir sebagai target, meski aktivitasnya jelas mengganggu kenyamanan pihak-pihak yang punya kepentingan,” ujar Budi.

Lebih jauh, Budi mengaku menjadi penghubung antara Polly dan Muchdi. Polly bahkan berkali-kali menelponnya, termasuk pada hari Munir tewas, hanya untuk menanyakan keberadaan Muchdi.

Kesaksian ini semakin mempertegas bahwa lingkaran intelijen negara merancang konspirasi besar dengan rapi untuk membunuh Munir, bukan sekadar peristiwa acak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan 730 x 130
Promo Iklan