Kronologi Chaos Muktamar X PPP: Interupsi, Klaim Kemenangan

Kronologi Chaos Muktamar X PPP. Interupsi, Klaim Kemenangan
Seluruh peserta berkumpul di forum Muktamar X PPP

Jakarta, Forum KiSSNed – Muktamar X Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang digelar di Ancol, Jakarta Utara, berubah menjadi arena panas penuh ketegangan.

Sejak Sidang Paripurna (SidPur) I, tensi politik meninggi.

Interupsi, benturan fisik, dan klaim sepihak mewarnai proses pemilihan ketua umum.

Dua kubu muncul dengan klaim kemenangan berbeda; satu melalui forum resmi, satu lagi di kamar hotel.

Interupsi Meledak Sejak SidPur I

SidPur I dibuka dengan Amir Uskara sebagai pimpinan sidang. Namun, suasana langsung tegang.

Peserta dari berbagai DPW dan DPC melakukan interupsi keras.

Mereka menuntut Amir mundur karena dianggap tidak netral.

Amir diketahui sebagai ketua tim sukses Mardiono.

Kecurigaan terhadap keberpihakannya sudah mencuat sejak awal.

Interupsi datang bertubi-tubi. Namun Amir tak bergeming.

Ia terus membaca tata tertib dengan cepat. Palu diketuk pasal demi pasal tanpa memberi ruang dialog.

Peserta berteriak, Amir tetap jalan. Ketegangan meningkat setiap detik.

Pernyataan Menantang dan Barikade DPW

Di tengah interupsi panas, Amir mengeluarkan pernyataan yang memicu ledakan emosi.

“Meski kalian DPW dan DPC, saya yang tentukan karena saya yang pegang palu!” kata Amir dengan nada lantang (27/9).

Kalimat itu menjadi pemicu eskalasi. Sejumlah perwakilan DPW segera membentuk barikade di depan meja sidang.

Mereka berdiri tegap menghadang pimpinan sidang.

Interupsi terus bergema, tapi Amir tetap menolak menghentikan sidang. Ia melanjutkan pembacaan agenda tanpa kompromi.

Suasana berubah menjadi duel terbuka antara pimpinan sidang dan peserta muktamar.

Benturan Fisik Pecah

Situasi meledak, sejumlah peserta merangsek ke depan meja persidangan.

Barikade DPW bertemu dengan massa lain.

Kontak fisik tak terhindarkan, kursi mulai beterbangan. Terjadi dorong-dorongan keras di tengah ruangan.

Amarah para peserta pecah setelah suara mereka diabaikan habis-habisan.

Dalam kekacauan itu, beberapa pimpinan sidang memilih kabur.

Mereka berlari keluar ruangan untuk menghindari benturan, panggung sidang dibiarkan kosong.

Peserta saling berteriak dan menuduh. Situasi benar-benar chaos.

Sidang Berlanjut Tanpa Amir

Setelah pimpinan sidang kabur, suasana perlahan mereda. Peserta mengambil alih forum.

Pimpinan sidang baru ditunjuk untuk melanjutkan SidPur I, jalannya sidang kembali normal.

Agenda muktamar kembali pada jalurnya. SidPur I hingga SidPur VIII berlangsung berurutan hingga dini hari.

Proses berjalan tertib di bawah pimpinan baru. Di SidPur III, hampir seluruh peserta menolak mentah-mentah laporan pertanggungjawaban DPP yang dibacakan Wakil Ketua Umum.

Ini menjadi sinyal kuat adanya perlawanan besar terhadap kepemimpinan lama.

Kemenangan Agus Dianggap Sah

Kubu Agus Suparmanto mengklaim kemenangan yang sah.

Mereka menegaskan bahwa seluruh mukhtamirin menyaksikan langsung proses lengkap dan terbuka di arena muktamar.

“Kemenangan Agus melalui mekanisme resmi. Semua tahap dilalui dari awal sampai akhir, on the spot, di hadapan forum,” tegas salah satu peserta sidang.

Kubu Agus menyebut publik harus tahu fakta sebenarnya. Menurut mereka, klaim kemenangan Mardiono hanya terjadi di luar forum resmi.

“Deklarasi Mardiono dilakukan di kamar hotel, bukan di depan forum muktamar X,” ujar seorang peserta.

Bukti Klaim Hotel Muncul

Fakta semakin panas setelah muncul bukti visual, Gus Romahurmuzy mengunggah foto Mardiono yang mendeklarasikan diri sebagai ketua umum secara aklamasi di kamar hotel.

Muhammad Mardiono (duduk di tengah) bersama beberapa pengusungnya di kamar hotel pada Muktamar X PPP yang diduga mendeklarasikan kemwnangannya. (Dok. Instagram/romahurmuziy)

Foto itu menyebar cepat di kalangan kader dan publik. Kubu Agus menilai ini sebagai bentuk pengambilalihan kekuasaan secara ilegal.

Selain itu, pelaku juga membawa kabur absensi peserta saat sidang tata tertib berlangsung.

Dokumen penting itu hilang bersamaan dengan momen kekacauan. Akibatnya, kubu Agus tidak memiliki bukti dukungan dua pertiga peserta yang menjadi syarat sah aklamasi.

“Tidak sampai dua pertiga peserta hadir dan mengesahkan. Klaim itu tidak berdasar,” kata sumber internal muktamar x PPP saat dihubungi Forum KiSSNed.

PPP Terbelah Tajam

Peristiwa ini membuka babak baru dalam konflik internal PPP.

Dua kubu berdiri dengan klaim legalitas masing-masing. Satu lahir dari forum resmi, satu lagi lahir dari kamar hotel.

Barikade, kursi terbang, hingga kaburnya pimpinan sidang menandai muktamar paling panas dalam sejarah PPP modern.

Kedua kubu kini bersiap membawa sengketa ini ke tahap lebih tinggi.

Tarik-menarik legitimasi akan menentukan masa depan PPP ke depan.

Muktamar X yang seharusnya menjadi ajang konsolidasi, justru berubah menjadi panggung perpecahan terbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan 730 x 130
Promo Iklan