Jakarta, Forum KiSSNed – Ketegangan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mencapai titik didih.
Desakan Syuriah agar Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, mundur dari jabatannya memicu badai besar yang mengguncang organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.
Setelah ramai tiga hari belakangan, Yahya langsung membalas dengan pernyataan yang mengejutkan dan mengguncang publik melalui caption di instagram pribadinya.
Dengan sikap tegas seolah menghadapi ultimatum, Yahya menegaskan bahwa ia tak pernah memikirkan untuk mundur.
“Sama sekali tidak pernah terbesit dalam pikiran saya untuk mundur dari Ketua Umum PBNU.” kata Yahya (23/11).

Pernyataan ini seakan menjadi tembok baja untuk menghentikan gelombang tekanan yang datang bertubi-tubi.
Yahya menegaskan bahwa ia memegang penuh mandat memimpin PBNU selama lima tahun dan menolak menyerah pada desakan apa pun.
“Saya mendapat mandat lima tahun memimpin NU, karena itu akan saya jalani selama lima tahun. Insya Allah saya sanggup.” tambahnya.
Edaran Risalah Harian Syuriah PBNU muncul dan langsung memanaskan situasi karena berisi langkah untuk memundurkan Ketua Umum. Namun, Yahya membalas dengan pernyataan keras yang semakin memperuncing konflik internal
“Menurut konstitusi AD/ART, Syuriah tidak berwenang untuk memberhentikan Ketua Umum.” tegasnya.

Dengan nada penuh ketegasan, pernyataan ini bukan hanya penolakan, tetapi sinyal bahwa Yahya siap menghadapi pertarungan politik internal PBNU hingga titik terakhir.
Ketegangan kini memasuki fase kritis. Publik menunggu, apakah ini awal perpecahan besar di PBNU atau justru babak baru kekuasaan yang akan dipertahankan habis-habisan? Drama ini belum berakhir.
Mata publik kini tertuju pada langkah Syuriah berikutnya dan bagaimana Yahya akan merespons perang dingin yang mulai berubah menjadi badai terbuka. (MIP)*











