PC PMII Jakarta Timur Desak KPI Segera Cabut Izin Siar Trans7

PMII Jakarta Timur Desak KPI Cabut Izin Siar Trans7
Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Jakarta Timur saat sedang melakukan aksi unjuk rasa di depan Balai Kota DKI Jakarta (Dok. Istimewa)

Jakarta, Forum KiSSNed – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII Jakarta Timur) menentang keras tayangan Trans7 yang dianggap menghina ulama dan mencoreng kehormatan pesantren.

PMII Jaktim menyebut konten tersebut bukan sekadar kelalaian redaksi, melainkan bentuk pelecehan terang-terangan terhadap simbol keagamaan dan nilai moral bangsa.

Dalam pernyataan resminya, Wakil Sekretaris 2 Bidang Exsternal PC PMII Jakarta Timur, Andrian menegaskan bahwa Trans7 telah melewati batas.

Tayangan itu bukan hanya melanggar etika penyiaran, tetapi juga menusuk marwah ulama dan pesantren yang selama ini menjadi benteng moral masyarakat Indonesia.

“Ulama bukan sekadar tokoh agama, mereka cahaya umat. Saat media mempermainkan kehormatan mereka, sama saja media sedang memadamkan cahaya bangsa,” jelas Andrian.

Organisasi mahasiswa berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU) itu mengajukan empat tuntutan keras.

Pertama, mereka meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) segera mencabut izin siar Trans7 karena telah menayangkan konten yang melanggar norma kesopanan dan nilai keagamaan.

Kedua, manajemen Trans7 wajib meminta maaf secara terbuka kepada publik dan umat Islam, khususnya kepada para kiai dan keluarga besar pesantren yang tersakiti.

Promo Iklan
Promo Iklan

Ketiga, PMII Jaktim mendesak Komisi Digital (Komdigi) untuk mengevaluasi seluruh platform digital Trans7, termasuk YouTube dan media sosial agar tidak lagi menjadi saluran penyebaran konten yang menistakan simbol agama.

Keempat, PMII Jaktim menuntut sanksi tegas terhadap tim kreatif dan produksi yang bertanggung jawab, serta peninjauan ulang sistem pengawasan internal di tubuh Trans7.

Kebebasan Pers Bukan Untuk Menghina Agama

PMII Jaktim menegaskan bahwa media harus menggunakan kebebasan pers untuk menjaga nilai agama, bukan untuk menghina atau merendahkannya.

Media seharusnya menjadi penjaga nilai, bukan perusak moral publik.

“Pers punya peran besar membentuk kesadaran bangsa. Tapi kalau media justru menertawakan yang suci, berarti mereka kehilangan arah,” tegasnya.

Sebagai penutup, PMII Jakarta Timur menyerukan kepada seluruh lembaga penyiaran agar menjadikan prinsip

Hiburan Beradab dan Bermartabat sebagai pedoman utama dalam setiap produksi konten.

“Media seharusnya jadi jembatan akhlak, bukan panggung penistaan. Kami, PMII Jakarta Timur, berdiri untuk menjaga marwah ulama dan pesantren, karena di sanalah ruh bangsa ini dilahirkan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Marhaban ya Ramadhan
Iklan 730 x 130
Promo Iklan