Jakarta, Forum KiSSNed – Dalam berbagai ruang perbincangan dan kegiatan internal Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), satu keluhan yang kerap menghantui pikiranku adalah soal jauhnya jarak sosial antara pengurus dan anggota biasa, antara ketua dan pengurusnya sendiri.
Gejala ini makin terasa ketika semakin tinggi posisi seorang kader dalam struktur PMII, semakin besar pula kecenderungannya untuk bersikap elitis, baik dalam gaya, tutur, maupun perilaku.
Fenomena ini kusindir secara sinis dengan sebutan macak elit, sebuah istilah yang menggambarkan bagaimana status sering kali menjelma menjadi simbol keangkuhan. Macak elit sebenarnya bukan fenomena baru dalam organisasi sosial-politik Indonesia.
Sejarah panjang patronase dan feodalisme telah menanamkan pola pikir bahwa jabatan adalah sumber kehormatan, bukan tanggung jawab. Pola ini, ku rasa, turut merembes ke tubuh PMII.
Kenaikan seseorang dari anggota menjadi pengurus, atau dari pengurus menjadi ketua, sering kali tidak lagi dimaknai sebagai bentuk tanggung jawab sosial yang lebih besar, melainkan sebagai peningkatan status pribadi.
Dari sinilah muncul kebiasaan baru, memandang jabatan bukan sebagai ruang pengabdian, melainkan sebagai panggung pengakuan.
Fenomena semacam itu sering kali kulihat berulang dan ada rasa muak yang sulit kusembunyikan setiap kali menyadari pola yang sama terus terjadi di berbagai tingkatan.
Dari rayon ke komisariat, dari komisariat ke cabang, hingga sampai ke tingkat nasional, semuanya memperlihatkan kecenderungan yang serupa.
Mereka yang menduduki jabatan perlahan membangun jarak dengan yang tidak memiliki jabatan.
Bahasa tubuh mulai berubah, cara bicara menjadi lebih formal, dan keputusan sering diambil secara instruktif tanpa membuka ruang dialog yang setara.
Rasa kepemilikan terhadap organisasi pun perlahan bergeser, dari semangat kolektif menuju ambisi personal.
Menurutku, macak elit di tubuh PMII bukan hanya mempengaruhi hubungan antarkader, tetapi juga mengubah orientasi gerakan.
Kaderisasi yang dulu menjadi ruang pembentukan kesadaran kini bergeser menjadi ajang pencitraan dan kompetisi struktural.
Forum-forum yang seharusnya melahirkan gagasan justru berubah menjadi arena saling pamer!
Kader kini tidak lagi berlomba berpikir kritis, tetapi berlomba duduk di kursi depan, mencari pengakuan senior, dan menjilat dengan gaya seolah intelektual.
Lucunya, semakin tinggi seseorang naik di PMII, semakin banyak energi yang ia habiskan untuk menjaga citranya sendiri. Ia terus membangun wibawa, menjaga jarak, dan berusaha keras agar selalu tampak berkelas. Namun dibalik semua itu subtansinya kosong.
Gagasan tak lagi lahir dari kegelisahan sosial, melainkan dari hasrat eksistensi. Dari keinginan untuk tampak penting, bukan dari kesadaran untuk berbuat.
Sementara di bawah, kader-kader muda mulai kehilangan arah. Mereka melihat, meniru, dan tanpa sadar mewarisi pola yang sama.
Maka lahirlah generasi baru yang juga ingin macak elit, bukan karena ingin berjuang, tapi semata-mata karena ingin dihormati.
Sakralitas Kini Jadi Formalitas
Inilah lingkaran setan yang membuat PMII perlahan kehilangan ruh egaliternya. Kader yang membiarkan budaya elitis tumbuh ikut menggerogoti semangat persaudaraan dan kesetaraan yang dulu menjadi napas gerakan.
Kader kini membangun hubungan berdasarkan gengsi, bukan solidaritas; berdasarkan status, bukan komitmen perjuangan. Yang tersisa hanyalah kebanggaan simbolik, jas biru dan atribut lainnya, segala hal yang semestinya menjadi alat perjuangan kini justru menjelma menjadi tanda kepongahan.
Aku masih ingat ketika pertama kali mengenakan jas PMII. Ada rasa bangga yang sederhana, karena merasa menjadi bagian dari gerakan besar yang memperjuangkan ilmu, iman, dan kemanusiaan.Tapi kini, rasa bangga itu berubah getir.
Kader kini memaknai jas itu bukan lagi sebagai tanda bakti, tapi sebagai pakaian kebesaran untuk membedakan diri dari yang lain.Banyak yang mengenakannya bukan untuk berjuang, tapi untuk menunjukkan “aku pengurus, aku pimpinan, aku lebih penting darimu”. Ironis.
Aku percaya penyakit ini tidak akan sembuh hanya dengan wacana. Ia butuh keberanian. Keberanian untuk jujur pada diri sendiri, untuk melihat dengan terang sisi ego yang kadang tersembunyi.
Setiap kita, pada titik tertentu, memiliki potensi menjadi bagian dari penyakit itu. Rasa ingin dihormati, ingin dianggap penting, dan ingin tampil lebih dari orang lain sering muncul di antara kita.
Semua itu tampak sepele, tapi sebenarnya sangat berbahaya. Jika kita tidak mengendalikannya, keinginan-keinginan itu cepat menyebar, menggerogoti semangat kolektif, dan membuat kita lupa pada tujuan PMII yang sebenarnya.
Aku menulis ini bukan untuk menyerang siapa pun, tetapi karena aku lelah melihat banyak orang menjadikan organisasi sebagai panggung sandiwara.
Dan aku menyaksikan pengurus dan pemimpin yang lebih sibuk menjaga wibawa ketimbang menegakkan nilai.
Aku menulis ini karena ingin membuat PMII kembali menjadi rumah yang hangat, bukan istana kecil yang membangun tembok kehormatan palsu.
Dan aku percaya, perubahan hanya mungkin jika kita berani jujur pada diri sendiri dan menempatkan pengabdian di atas status.
“Jika jabatan terus diperlakukan sebagai simbol kebesaran, maka cepat atau lambat, PMII hanya akan menjadi organisasi kosong yang sibuk dengan dirinya sendiri. Tak ada ruh perjuangan, tak ada keberpihakan, hanya kebanggaan struktural yang menipu.”
Bagiku, ketika kader terus membiarkan budaya macak elit berkembang, mereka ikut merusak organisasi dan menyiapkan generasi PMII yang kehilangan arah serta terancam menjadi gelandangan politik di masa depan.
Untuk kamu yang sedang membaca ini, pantau terus media ini, karena tulisan selanjutnya akan membahas bagaimana budaya ini melahirkan fenomena gelandangan politik di kalangan kader PMII.
*****)
Oleh: Aly Mu’afa Hibatulloh, Tim Kaderisasi Nasional PB PMII.
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi ForumKiSSNed.co.id.
Kopi Forum atau rubik opini di Forum KiSSNed untuk umum.
Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksi@forumkissned.co.id
Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
















3 thoughts on “PMII dan Sindrom Macak Elit: Saat Status Jadi Simbol Keangkuhan”
Top bettoolll sudah bapak ini
Kembali ke Motto
Bak macan tidak ada taring nyaa, begitu lah kira kira kondisi saat ini,, seperti apa yang dikatakan salah satu ilmuwan Islam “sikap lebih dilihat daripada sebuah perkataan” saat ini memang tidak banyak bicara tapi banyak sikap yang di lakukan tapi sikap yang tidak seharusnya dilakukan malah di lakukan.. siapapun yang melihat khususunya pengurus cabang atau besar sekali kali tengok lah kader kebawah banyak dari mereka yang hilang arah dan banyak dari mereka yang mempertanyakan PMII itu sendiri,, jika semakin dibiarkan maka jangan heran PMII beberapa tahun depan akan mengalami kemunduran bahkan lebih dari itu.