Jakarta Timur, Forum KiSSNed – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Jakarta Timur (PC PMII Jaktim) melontarkan seruan keras kepada institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri).
PMII Jakarta Timur meminta Polri segera melakukan muhasabah mendalam dan taubatan nasuha atas berbagai persoalan penegakan hukum yang terus menuai kritik publik.
Menurut PC PMII Jakarta Timur, Idul Fitri tidak boleh dimaknai hanya sebagai seremoni keagamaan.
Momentum ini harus menjadi saat yang jujur untuk membersihkan diri, mengakui kesalahan, dan memperbaiki kerusakan moral dalam institusi negara, termasuk di tubuh Polri.
RHI Muhammad Taufiqurrahman, Ketua PC PMII Jakarta Timur menegaskan bahwa sebagai lembaga penegak hukum yang memegang kekuasaan besar, Polri tidak boleh abai terhadap tuntutan moral masyarakat.
Polri harus menunjukkan integritas, profesionalitas, dan keberpihakan kepada keadilan.
“Momentum Idul Fitri adalah waktu yang tepat bagi semua pihak, termasuk Polri, untuk melakukan muhasabah secara mendalam. Taubatan nasuha dalam konteks kelembagaan berarti keberanian untuk memperbaiki diri secara serius dan memulihkan kepercayaan publik yang terus terkikis,” tegasnya melalui keterangan tertulisnya pada Senin (16/3/2026).
PC PMII Jakarta Timur menilai bahwa kepercayaan publik terhadap Polri sedang berada pada titik yang mengkhawatirkan.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai peristiwa justru memperlihatkan wajah penegakan hukum yang problematis.
Publik menyaksikan lambannya penanganan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS.
Di sisi lain, masyarakat juga dikejutkan dengan maraknya anggota kepolisian yang terseret kasus penyalahgunaan narkotika.
Tidak berhenti di situ, berbagai kasus lain juga mencoreng citra institusi kepolisian.
Mulai dari pembunuhan yang melibatkan perwira tinggi Polri, praktik mafia hukum yang menyeret oknum aparat, hingga dugaan penyalahgunaan kewenangan dalam proses penegakan hukum.
Masyarakat juga terus mengingat berbagai laporan kekerasan aparat terhadap warga sipil, baik dalam penanganan demonstrasi maupun dalam proses penyidikan.
Kepercayaan Publik Menurun, Polri Didesak Taubatan Nasuha
Bagi PC PMII Jakarta Timur, rentetan peristiwa tersebut tidak bisa lagi dianggap sekadar ulah oknum.
Persoalan ini mencerminkan adanya problem serius dalam sistem pengawasan dan budaya kelembagaan di tubuh Polri.
“Jika umat Islam diajak kembali kepada kesucian melalui muhasabah dan taubat menjelang Idul Fitri, maka Polri juga harus berani melakukan hal yang sama. Kepercayaan publik tidak akan kembali jika reformasi hanya berhenti pada slogan tanpa perubahan nyata,” ujarnya.
PC PMII Jakarta Timur menegaskan bahwa Polri harus berani membersihkan institusinya dari oknum-oknum yang mencederai hukum dan keadilan.

Penegakan hukum yang keras terhadap masyarakat tidak boleh berbanding terbalik dengan sikap lunak terhadap pelanggaran yang dilakukan aparat sendiri.
Karena itu, PMII Jakarta Timur mendesak Polri menjadikan Idul Fitri sebagai titik awal pembenahan internal yang nyata.
Pengawasan internal harus diperkuat, integritas anggota harus diperbaiki dan penanganan berbagai kasus besar juga harus dibuka secara transparan kepada publik.

PC PMII Jakarta Timur juga meminta agar setiap anggota yang terbukti menyalahgunakan kewenangan ditindak tegas tanpa kompromi.
Sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil, PC PMII Jakarta Timur menegaskan akan terus mengawal demokrasi dan penegakan hukum yang berkeadilan di Indonesia.
PC PMII Jaktim berharap Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan simbolik.
Momentum ini harus menjadi pengingat keras bagi seluruh penyelenggara negara untuk memperbaiki diri, memulihkan integritas lembaga negara, dan memastikan hukum benar-benar ditegakkan demi keadilan rakyat.









