Jakarta, Forum KiSSNed – Forum Kajian Isu Strategis Negara Demokrasi (Forum KiSSNed) mengadakan nobar dan diskusi film Pesta Babi pada Rabu, 20 Mei 2026 di Arena Dialektika, Jakarta Timur.
Forum KiSSNed memulai acara pada pukul 20.00 WIB dan membuka kegiatan ini bagi masyarakat yang ingin mengikuti ruang dialog sosial dan budaya.
Film Pesta Babi ini sebagaimana diketahui mengangkat isu kolonialisme di era modern.
Melalui cerita dan visual yang kuat, film ini mengajak penonton melihat dan memahami luka sosial yang masyarakat sering anggap biasa.
Panitia pelaksana kegiatan menyebut Pesta Babi bukan sekadar hiburan.
Film tersebut hadir sebagai suara bagi kelompok yang tersingkir sekaligus kritik terhadap persoalan yang kerap tertutup narasi pembangunan.
Direktur Forum KiSSNed, Erlangga Abdul Kalam, mengatakan kegiatan ini lahir dari keresahan terhadap ruang diskusi publik yang semakin dangkal.
Menurutnya, masyarakat membutuhkan tempat untuk berbicara secara terbuka tanpa tekanan dan tanpa sekadar mencari sensasi di media sosial.
“Film Pesta Babi mengajak kita melihat kenyataan yang sering diabaikan. Kami ingin menghadirkan ruang dialog yang lebih jujur, kritis, dan manusiawi,” ujar Erlangga Abdul Kalam.
Ia menilai banyak persoalan sosial di Indonesia sering berhenti sebagai perdebatan singkat di media sosial tanpa ruang pembahasan yang lebih mendalam.
Karena itu, Forum KiSSNed memilih menghadirkan diskusi publik melalui medium film agar masyarakat dapat memahami isu secara lebih utuh.
“Kami tidak ingin masyarakat hanya menjadi penonton dari berbagai persoalan sosial. Kami ingin publik ikut berpikir, berdialog, dan berani menyampaikan pandangan secara terbuka,” katanya.
Sentuh Emosional, Bangun Kesadaran Kolektif
Erlangga juga menegaskan bahwa film memiliki kekuatan untuk menyentuh sisi emosional sekaligus membangun kesadaran kolektif.
Menurutnya, ruang seni dan budaya perlu terus hidup agar masyarakat tidak kehilangan kepekaan terhadap realitas di sekitarnya.
“Diskusi seperti ini penting supaya masyarakat tidak terbiasa menganggap ketidakadilan sebagai sesuatu yang normal. Kesadaran publik harus terus dirawat melalui ruang-ruang percakapan yang sehat,” tambahnya.
Kegiatan nobar dan diskusi ini juga menjadi upaya membangun kesadaran publik terhadap berbagai persoalan sosial di Indonesia.
Forum KiSSNed menilai film dapat menjadi media refleksi sekaligus sarana membuka percakapan yang lebih dekat dengan realitas masyarakat.
KiSSNed berupaya mendorong masyarakat hadir langsung dan berdiskusi bersama.
Forum KiSSNed menghadirkan ruang tukar pikiran yang lebih terbuka, tenang, dan mendalam dibanding perdebatan di media sosial.
Selain menonton film, peserta juga memahami pesan simbolik yang muncul dalam cerita Pesta Babi.
Diskusi setelah pemutaran film akan membahas isu kolonialisme, ketimpangan sosial, hingga dampaknya terhadap kehidupan masyarakat saat ini.
Panitia menghadirkan suasana diskusi yang santai dan terbuka agar peserta bebas menyampaikan pandangan.
Panitia berharap forum tersebut mampu mempertemukan berbagai sudut pandang tanpa sekat dan tanpa tekanan.
Erlangga Abdul Kalam menegaskan bahwa ruang diskusi publik perlu terus tumbuh di tengah derasnya arus informasi digital.
Ia berharap kegiatan ini dapat membangun budaya berdialog yang lebih sehat, kritis, dan berorientasi pada solusi sosial.
“Kami berharap kegiatan ini bukan hanya menjadi acara menonton film bersama, tetapi juga menjadi awal lahirnya ruang-ruang diskusi baru yang lebih berani dan berpihak pada kemanusiaan,” tutup Erlangga.
Acara tersebut menghadirkan pegiat sosial, mahasiswa, komunitas film, dan masyarakat umum.
Berbagai kelompok itu memperkaya pembahasan sekaligus memperluas perspektif peserta.
Melalui nobar dan diskusi film Pesta Babi, Forum KiSSNed berharap masyarakat semakin berani melihat realitas sosial secara lebih terbuka serta aktif membangun ruang dialog yang lebih sadar dan manusiawi.






















