Depok, Forum KiSSNed – Menyikapi gelombang duka atas gugurnya lima peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dalam masa Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil), Sekretaris DPAC PKB Cimanggis, Royhanzein, mendesak Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk melakukan evaluasi total dan rekonstruksi kurikulum pembinaan calon pengelola koperasi modern.
Forum kiSSNed
Klik di sini untuk baca isu Indonesia lebih tajam
Tragedi wafatnya Yonanda, Anisa, Novia, Rifki, dan Nola yang dipersiapkan sebagai manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dinilai menjadi alarm keras mengenai adanya salah baca (missed-reading) kebutuhan riil lapangan dalam menerjemahkan konsep pembinaan kedisiplinan sipil.
“Kami menyampaikan rasa duka yang mendalam atas gugurnya para patriot ekonomi muda ini. Dalam tradisi teologi publik dan nilai turats, keselamatan jiwa (Hifdzun Nafs) adalah prioritas mutlak di atas segala program pembangunan,” ujar Royhanzein saat ditemui di Cimanggis, Depok, Selasa (30/6/2026).
Menurutnya, ada cacat penalaran struktural yang fatal ketika ketahanan mental penggerak ekonomi disamakan begitu saja dengan ketahanan fisik prajurit tempur di medan laga.
Koperasi kelurahan dan retail ekonomi di tingkat akar rumput kolaps bukan karena pengelolanya tidak bisa menyamar di lumpur, melainkan karena kelemahan tata kelola administrasi keuangan, manajemen retail, serta keterbatasan adopsi teknologi informasi digital.
“Alokasi anggaran yang mencapai puluhan juta rupiah per orang untuk militerisasi sipil non-kombatan mencerminkan dislokasi prioritas. Dana sebesar itu seharusnya bisa langsung diorientasikan untuk stimulus ekonomi lokal, penguatan kapasitas akuntansi, atau pemenuhan sarana pendidikan publik yang lebih representatif di daerah, seperti kebutuhan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Depok,” tambahnya.
Lebih lanjut, akademisi ini menekankan pentingnya tata kelola yang profesional, terencana, dan melek teknologi informasi demi mewujudkan kemandirian ekonomi yang mandiri di tingkat lokal.
Rekomemdasi DPAC PKB Cimanggis
Melalui pernyataan ini, Sekretaris DPAC PKB Cimanggis merekomendasikan tiga langkah taktis bagi pemangku kebijakan:
1. Evaluasi Total Kurikulum: Menghentikan sementara pendekatan fisik ekstrem dan menggantinya dengan kurikulum manajerial, akuntansi strategis, dan integrasi kecerdasan buatan (AI) untuk efisiensi bisnis koperasi.
2. Audit Efisiensi Anggaran: Mengalihkan porsi anggaran latihan fisik berat ke program pendampingan wirausaha mandiri yang amanah dan berdampak langsung pada masyarakat bawah.
3. Pengetatan Proteksi Medis: Menjamin hak keselamatan, jaminan kesehatan, dan perlindungan ketat bagi seluruh sarjana penggerak yang saat ini masih berjalan di dalam program.
“Sistem yang sehat tidak akan menuntut martir dari urusan-urusan yang bisa diselesaikan dengan kecerdasan manajerial. Sudah saatnya kita merawat gerakan koperasi kita dengan ketajaman akal sehat, bukan ketegangan otot,” tutupnya.
Royhanzein Ahmed merupakan akademisi sosiolinguistik dan praktisi pendidikan masyarakat yang aktif mendorong penguatan kapasitas warga melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pemberdayaan.
Forum kiSSNed
Klik di sini untuk baca isu Indonesia lebih tajam
Selain itu, ia juga merupakan fungsionaris lokal yang menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui koperasi kelurahan di wilayah Cimanggis, Depok. Royhanzein aktif menulis analisis tentang sosiolinguistik dan teologi publik melalui platform think-tank Mashlahah.id.






















