Jakarta, Forum KiSSNed – Misteri keberadaan aktivis Papua Yasinta Moiwend atau Mama Yasinta memicu keresahan keluarga.
Sejak 24 Mei 2026, keluarga mengaku kehilangan kontak dengan perempuan adat Merauke yang selama ini lantang menyuarakan penolakan proyek strategis nasional (PSN) dan ekspansi industri pangan di Papua Selatan.
Keluarga menyatakan komunikasi terakhir dengan Mama Yasinta itu terjadi pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Sehari kemudian, Mama Yasinta menghilang dari kampung halamannya di Kampung Wogekel, Distrik Ilwayab, Merauke.
Sejak saat itu, keluarga tidak lagi mengetahui secara pasti keberadaannya.
“Kami dari keluarga Mama Yasinta mau klarifikasi. Mulai Minggu, 24 Mei 2026, kami kehilangan kontak dengan beliau,” kata salah satu anak Yasinta dalam video yang dikitip Tempo, Sabtu (30/05).
Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace, Arie Rompas, membenarkan bahwa keluarga Mama Yasinta membuat video tersebut.
Menurut keluarga, sejumlah pihak lebih dulu menjalin komunikasi dengan Mama Yasinta sebelum membawa aktivis adat itu keluar dari kampung tanpa pemberitahuan kepada keluarga.
Dugaan Mobilisasi Diam-Diam ke Jakarta
Anak Yasinta menuturkan bahwa ibunya tidak pulang ke rumah pada Ahad malam dan memilih bermalam di pos Tentara Nasional Indonesia (TNI) Kampung Wogekel.
Keesokan harinya, keluarga menduga aparat yang bertugas mengamankan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Kampung Wanam bersama sejumlah pejabat distrik membawa Mama Yasinta menuju Merauke.
“Beliau dibawa tanpa sepengetahuan keluarga,” ujarnya.
Keluarga kemudian menerima berbagai informasi yang saling bersinggungan.
Mula-mula keluarga mendengar kabar bahwa Mama Yasinta berangkat menggunakan kapal menuju Merauke.
Tak lama kemudian, informasi lain menyebutkan bahwa ia melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat jet menuju Timika, Papua Tengah.
Hingga Jumat, 29 Mei 2026, keluarga mengaku belum mengetahui secara pasti lokasi keberadaan Mama Yasinta.
Forum kiSSNed
Klik di sini untuk baca isu Indonesia lebih tajam
Titik terang baru muncul ketika sejumlah aparat dan pejabat distrik kembali ke Kampung Wanam menggunakan helikopter.
Sejumlah pihak menduga PT Jhonlin Group milik Andi Syamsuddin Arsyad (Haji Isam) mengoperasikan helikopter tersebut.
Saat itu, keluarga akhirnya berkomunikasi dengan Mama Yasinta melalui telepon seluler milik salah seorang aparat militer.
Dalam percakapan tersebut, Mama Yasinta mengaku berada di Jakarta.
Ia juga meminta keluarga mengirimkan dokumen identitas berupa KTP dan Kartu Keluarga.
Selain itu, Mama Yasinta menyampaikan rencana pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto.
Di tengah polemik tersebut, Mama Yasinta bersama kuasa hukumnya, Hamonangan Daulay, melaporkan Ketua LBH Merauke berinisial JTW ke Polda Metro Jaya terkait film Pesta Babi.
Laporan bernomor LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya tertanggal 29 Mei 2026 itu mempersoalkan dugaan pelanggaran Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi.
Langkah hukum tersebut sontak langsung mengejutkan keluarga.
Mama Yasinta selama ini aktif mendampingi gerakan masyarakat adat yang menolak PSN di Papua Selatan.
Karena itu, keluarga mempertanyakan berbagai perkembangan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Anak Yasinta menilai ada pihak tertentu yang sengaja mengadu kepentingan masyarakat adat dengan agenda PSN.
“Ini sistem yang dibangun oleh oknum-oknum sehingga membenturkan perjuangan kami dalam memperjuangkan tanah adat di Papua,” kata dia.
Anak Yasinta Moiwend Desak LPSK, Komnas HAM Turun Tangan
Keluarga kini mendesak Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), dan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) untuk ikut mengawal keberadaan Mama Yasinta.
Forum kiSSNed
Klik di sini untuk baca isu Indonesia lebih tajam
Keluarga juga meminta pihak yang membawa Mama Yasinta segera mempertemukannya dengan keluarga agar seluruh spekulasi yang berkembang dapat terjawab.
“Sampai sekarang kami tidak tahu kondisi mama. Apakah beliau baik-baik di Jakarta atau diintimidasi,” ujar anak Yasinta.
Mama Yasinta merupakan tokoh perempuan adat Suku Marind-Anim dari Merauke.
Selama bertahun-tahun, ia memperjuangkan hak masyarakat adat dan menentang pembukaan hutan serta pengambilalihan tanah ulayat yang mengancam ruang hidup warga Papua Selatan.






















