Jakarta – Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Momentum ini tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan yang dipenuhi slogan, dan flayer di medsos.
Pancasila lahir sebagai fondasi moral, politik, dan sosial yang menjadi pedoman perjalanan bangsa.
Karena itu, memperingati Pancasila berarti mengukur sejauh mana nilai-nilainya hadir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hari ini.
Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Di satu sisi, negara berhasil menjaga stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Namun di sisi lain, masyarakat juga menyaksikan munculnya berbagai persoalan yang memerlukan perhatian serius, mulai dari; meningkatnya ketimpangan ekonomi, melemahnya kualitas demokrasi, konflik agraria, hingga menguatnya polarisasi sosial di ruang digital.
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya diukur dari angka investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Pembangunan harus menghadirkan keadilan bagi masyarakat, terutama kelompok rentan, masyarakat adat, nelayan, petani, buruh, serta warga yang hidup di wilayah-wilayah yang menjadi pusat ekspansi pembangunan nasional.
Ketika pembangunan melahirkan ketimpangan atau mengabaikan suara masyarakat, maka semangat kemanusiaan yang menjadi ruh Pancasila perlu kembali kita tegakkan.
Sementara itu, sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan, mengajarkan pentingnya demokrasi yang sehat.
Demokrasi bukan sekadar pemilu lima tahunan. Demokrasi menuntut adanya ruang kritik, kebebasan berpendapat, penghormatan terhadap perbedaan pandangan, serta keberanian negara melindungi hak-hak sipil seluruh warga negara.
Pada beberapa waktu terakhir, publik sering kali memperdebatkan berbagai isu yang berkaitan dengan kebebasan sipil, penegakan hukum, dan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan.
Perdebatan tersebut sejatinya merupakan bagian alami dari kehidupan bernegara yang mengusung konsep demokrasi.
Maka yang harus dijaga adalah memastikan setiap perbedaan pandangan diselesaikan melalui dialog, argumentasi, dan mekanisme hukum yang adil, bukan melalui intimidasi atau pembungkaman.
Ujian Pancasila
Di tengah perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat, tantangan baru juga muncul.
Arus informasi yang tidak terkendali sering kali melahirkan disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi.
Akibatnya, ruang publik menjadi semakin bising, sementara substansi persoalan bangsa sering kali tenggelam dalam pertarungan narasi yang tidak produktif.
Forum kiSSNed
Klik di sini untuk baca isu Indonesia lebih tajam
Secara sederhana, dalam konteks ini, Pancasila kembali menemukan relevansinya sebagai titik temu yang mampu menyatukan keberagaman pandangan dalam semangat persaudaraan kebangsaan.
Pancasila juga mengajarkan bahwa kekuatan negara harus berjalan beriringan dengan supremasi hukum dan penghormatan terhadap hak-hak warga negara.
Negara yang kuat bukanlah negara yang membungkam kritik, melainkan negara yang mampu menjawab kritik dengan kinerja, transparansi, dan akuntabilitas.
Kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab merupakan bagian dari kecintaan terhadap bangsa, bukan ancaman terhadap negara.
Pada akhirnya, Hari Lahir Pancasila 2026 harus menjadi momentum refleksi bersama bagi kita semua.
Refleksi Nilai-Nilai Pancasila
Kita perlu bertanya secara jujur atau melakukan auotokritik pada apa yang saat ini terjadi:
Apakah keadilan sosial telah benar-benar dirasakan seluruh rakyat Indonesia?
Lalu, apakah demokrasi berjalan sehat dan memberikan ruang yang setara bagi semua warga?
Dan apakah pembangunan telah menghadirkan kesejahteraan tanpa meninggalkan kelompok yang lemah?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, saya kira akan menentukan masa depan Indonesia. Sebab Pancasila tidak membutuhkan pujian yang berlebihan.
Pancasila membutuhkan keberanian untuk diwujudkan dalam kebijakan, tindakan, dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat.
Jika bangsa ini mampu menjaga demokrasi, memperkuat keadilan sosial, menghormati hak asasi manusia, serta menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan golongan, maka Pancasila akan tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
Mari kita jaga Indonesia dengan akal sehat, keadilan, dan semangat persatuan.
Berbeda tanpa bermusuhan, bersatu tanpa menyeragamkan.
*****)
Oleh: Erlangga Abdul Kalam, Direktur Eksekutif Forum KiSSNed.
Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi ForumKiSSNed.co.id
Kopi Forum atau rubik opini di Forum KiSSNed untuk umum
Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksi@forumkissned.co.id
Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim


























