Hajat Kemerdekaan Indonesia: Menolak Tua Tanpa Martabat

Hajat Kemerdekaan, Menolak Menua Tanpa Martabat
Fikri Fakhruddin. S.Sos, Pengurus PKC PMII DKI Jakarta (Dok. Istimewa)

Jakarta -​ Setiap kali kalender menunjuk bulan Agustus, ada siklus yang rasanya tak pernah absen di republik kita tercinta ini. Kampung-kampung mendadak merona merah-putih, gapura yang sepanjang tahun tampak lelah tiba-tiba bersolek dengan cat baru berkat semangat kolektif para penduduk setempat.

Ada juga di tanah lapang, pohon pinang berdiri angkuh, mengajarkan sebuah filosofi kebersamaan yang unik: bersatu kita teguh, tapi untuk mendapat hadiah di atas sana, sesekali kita merelakan pundak kawan menjadi pijakan.​

Di tahun 2026 ini, kita merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 kemerdekaan. Temanya, seperti biasa, megah dan sarat doa “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Sebuah kalimat yang sangat agung untuk diucapkan dalam pidato kenegaraan, walau kadang terasa berjarak dengan realita yang kita jalani sehari-hari.​

Sebab, di balik ramainya promo kemerdekaan di berbagai e-commerce dan riuhnya parade tujuh belasan, ada sebuah jam pasir raksasa yang butirannya terus merosot tanpa kompromi. Jam pasir itu memiliki nama yang sering dikutip para elite dalam pelbagai momentum, namun jarang kita resapi maknanya yaitu ‘bonus demografi’.​

Titik Uji Indonesia

Selama ini, kita sering dicekoki ilusi bahwa bonus demografi merupakan tiket VIP menuju ‘Indonesia Emas 2045’. Seolah-olah, ia adalah eskalator otomatis yang tinggal kita naiki, lalu tiba tiba bangsa ini sudah di lantai kesejahteraan.​

Padahal, bonus demografi bukanlah garis finis. Ia adalah ruang ujian. Antara tahun 2030 hingga 2035 nanti, jumlah penduduk usia produktif kita akan meluap.

Bayangkan, dari 100 orang di Indonesia, sekitar 68 orang di antaranya sedang berada di usia segar bugar, siap memeras keringat dan menyumbangkan pengabdian. ​

Di atas kertas, ini adalah prasyarat utama untuk membuat sebuah bangsa mengalami lompatan peradaban, berdiri sejajar dengan negara-negara maju yang mandiri. Namun, hukum alamnya jelas, lautan manusia ini hanya akan menjadi ‘bonus’ jika mereka memiliki peran yang bermartabat.

Pekerjaan yang memanusiakan manusia, yang menuntut penciptaan nilai, bukan sekadar terjebak dalam pusaran gig economy di mana pemuda-pemudi kita mengukur masa depannya dari seberapa cepat mereka mengantar pesanan makanan atau seberapa viral konten mereka hari ini.​

Jika ruang ujian ini hanya diisi oleh jutaan orang yang memegang ijazah namun hampa dari keahlian yang relevan dengan zaman, kita sebenarnya tidak sedang menyambut bonus demografi. Tetapi kita sedang menyemai bencana demografi.

Sebuah ironi di mana satu-satunya hal yang produktif hanyalah kecemasan massal dan persoalan yang pelik dan tak akan bisa selesai.

Di titik inilah, cita-cita ‘Berdaulat, Adil, dan Makmur’ harus diuji keberaniannya. Jika kita gagal mentransformasi sumber daya manusia ini, bangsa kita akan jatuh ke dalam apa yang disebut middle income trap (Jebakan Kelas Menengah).​

Jebakan Kedaulatan

Namun, mari kita bedah jebakan ini bukan hanya sekadar dari kacamata uang atau ekonomi pragmatis, melainkan dari kacamata kedaulatan, jebakan ini adalah fase di mana sebuah bangsa kehilangan harga dirinya.

Kita sudah terlalu mahal untuk menjadi negara ‘kuli’ bersistem buruh murah, tapi kualitas intelektual kita belum cukup mumpuni untuk menjadi negara ‘kreator’ yang menciptakan teknologi canggih.

Jadilah kita bangsa konsumen yang mungkin terjebak di tengah-tengah, tidak lagi miskin, namun tidak juga kaya akibat terjajah secara ekonomi dan teknologi.​

IKLAN

Forum kiSSNed

Klik di sini untuk baca isu Indonesia lebih tajam

Maka, kedaulatan hari ini bukan lagi sekadar memasang umbul-umbul. Kedaulatan adalah ketika kita dianugerahi tanah yang kaya nikel, dan kita sendirilah dengan otak anak-anak bangsa yang meraciknya menjadi teknologi baterai masa depan.

Keadilan sejati bukanlah antrean pembagian sembako sesaat, melainkan ketika anak petani di pelosok memiliki akses pendidikan nalar kritis dan teknologi yang setara dengan anak-anak di jantung ibu kota.​

Dan kemakmuran, sejatinya bukanlah tentang menjadi ‘kaya raya’ untuk pamer kemewahan. Kemakmuran adalah tentang kemandirian (berdikari).

Iklan 730 x 130
Promo Iklan

Kita harus merenungkan sisa waktu yang sempit ini dengan hati-hati. Jika menjelang tahun 2045 bangsa ini gagal mencapai kemandirian tersebut, mungkin kita tidak akan merayakan ‘Indonesia Emas‘. Kita hanya akan menyambut pada sesuatu hal yang lebih mengerikan daripada hari ini.

Menua Tanpa Kemandirian

Generasi milenial hari ini, pada saat itu akan memasuki usia senja. Jika negara ini tidak memiliki pondasi kesejahteraan yang kuat, puluhan juta lansia ini akan kehilangan martabatnya di masa tua, dan menjadi beban besar bagi anak-anak generasi selanjutya.

Istilah ekonominya adalah getting old before getting rich, tapi istilah manusiawinya adalah ‘menua dalam ketergantungan dan kehilangan kehormatan’ di sinilah narasi ini harus mengetuk nurani generasi muda.​

Sudah saatnya kita mengakhiri era rebahan massal dan apatisme yang kerap kita bungkus dengan lelucon satir di kolom komentar. Menjadi pendekar keypad yang sinis memang menghibur, tapi sinisme tidak pernah membangun satu batu bata pun untuk peradaban.

IKLAN

Forum kiSSNed

Klik di sini untuk baca isu Indonesia lebih tajam

Masa depan yang dipertaruhkan ini adalah warisan kita, bukan milik para penguasa yang esok lusa akan purna tugas.​ Kita harus mulai mengambil peran, berhentilah menjadi penonton di rumah sendiri, mulailah dari skala terkecil di lingkunganmu.

Hidupkan kembali diskursus di pos ronda, jadilah penggerak literasi di kampungmu, atau bangun ekosistem kewirausahaan yang menyelesaikan masalah tetanggamu.

Lalu, bawalah capaian itu ke skala nasional. Pilihlah pemimpin berdasarkan nalar dan gagasannya, bukan karena bungkus pencitraannya. Beranikan diri masuk ke ruang-ruang publik dan jadilah warga negara yang menolak untuk dibodohi.​

Mari kita rayakan usia 81 tahun republik ini dengan kedewasaan baru. Lomba panjat pinang biarlah menjadi hiburan belaka, karena tugas kita yang sebenarnya adalah membangun tangga peradaban.

Promo Iklan
Promo Iklan

Merdeka itu bukan sekadar lepas dari belenggu masa lalu, melainkan keberanian untuk tidak menggadaikan masa depan.​ Selamat ulang tahun, Indonesia.

Ayo, bangun dan ambil peranmu. Jangan sampai kita menua sebelum bermartabat, dan jangan sampai kita tua sebelum bangsa ini benar-benar merdeka dan berdiri di atas kakinya sendiri.

*****)

Oleh: Fikri Fakhruddin. S.Sos, Pengurus PKC PMII DKI Jakarta

Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi ForumKiSSNed.co.id

Kopi Forum atau rubik opini di Forum KiSSNed untuk umum

Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksi@forumkissned.co.id

Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Raya Idul Adha
Iklan 320x50
Promo Iklan